Istilah apresiasi berasal dari bahasa latin, apreciatio, yang berarti 'mengindahkan' atau 'mengahargai'. Menurut S. Effendi, apresiasi sastra adalah kegiatan 'menggauli' karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengapresiasi sebuah karya sastra. Salah satunya adalah dengan membaca. Karya sastra yang dimaksud di sini adalah prosa (novel, cerpen, hikayat dll), puisi dan drama.
Kegiatan mengapresiasi karya sastra dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan mengapresiasi karya sastra secara langsung dan tidak langsung. Apresiasi secara langsung dapat diwujudkan dengan membaca, melihat (jika diwujudkan dalam sebuah teater pertunjukan atau film), memahami, menikmati, menganalisis dan mengevaluasi karya sastra tersebut. Sedangkan secara tidak langsung dapat diwujudkan dengan mempelajari teori sastra.
Menurut Herman J. Waluyo, ada 4 tingkatan dalam mengapresiasi, yaitu :
- Menggemari. Artinya, pembaca yang mampu terbawa atau hanyut dalam cerita dan menggemari karya sastra yang dibaca. Atau menggemari pelaku-pelaku yang diciptakan oleh pengarang.
- Menikmati. Artinya, pembaca yang dapat menikmati dan merasakan dalamnya perasaan manusia (dapat mengungkapkan kepribadian dan alam pikiran pelaku).
- Reaksi. Artinya, pembaca yang mampu membandingkan karya yang satu dengan karya lainnya dan mampu memberikan pendapat mengenai karya tersebut. Serta dapat membaca karya yang lebih 'sulit' dengan kenikmatan.
- Pembaca yang mampu melihat keindahan susunan dialog, setting simbolis pemakaian kata-kata yang berirama yang disajikan oleh pengarang dan dapat merespon karya sastra sehingga dapat merangsang proses berfikir.
Sebenarnya ada satu tingkatan lagi dalam mengapresiasi sebuah karya, tingkatan yang paling tinggi di antara 4 tingkatan tersebut, yaitu proses kreatif. Yang dimaksud dengan proses kreatif di sini adalah seorang pembaca yang telah mampu memberikan respon terhadap karya sastra dengan seni yang dibuatnya sendiri. Yang dimaksud 'seni yang dibuatnya sendiri' di sini artinya adalah bahwa pembaca telah mampu menghasilkan karyanya sendiri setelah mengapresiasi karya sastra orang lain.
Seperti halnya sebuah karya, hidup manusia pun haruslah kita apresiasi. Tuhan telah memberikan karunia kehidupan kepada kita, apapun keadaan kehidupan kita sekarang, kitalah yang harus mengapresiasinya, menghargainya dan menjalaninya sebaik mungkin.
Sama seperti apa yang diungkapkan Herman J. Waluyo bahwa tingkat apresiasi yang pertama adalah menggemari. Jika kita sulit untuk menerima kenyataan hidup, langkah awal yang harus kita lakukan adalah menggemarinya. Menyukai hidup kita! Kemudian barulah kita menikmatinya dan memberikan reaksi yang positif terhadap kehidupan kita. Di tingkat yang ketiga, '..mampu membaca karya sastra yang 'sulit' dengan kenikmatan', jika kita analogikan apresiasi sastra dengan apresiasi hidup, kalimat di atas kira-kira dapat berarti seperti ini, '...mampu menghadapi cobaan yang berat sekalipun dengan kenikmatan (rasa syukur dan keikhlasan).
Tahap selanjutnya yaitu mampu membandingkan, mana yang baik dan mana yang buruk. Mana perbuatan yang seharusnya dilakukan dan mana yang seharusnya tidak dilakukan.
Hiduplah dengan sebaik-baiknya. Apresiasilah hidup kita! Berjuanglah! Jangan menyerah! Ganbatteeeee~!!! XDD
Seperti halnya sebuah karya, hidup manusia pun haruslah kita apresiasi. Tuhan telah memberikan karunia kehidupan kepada kita, apapun keadaan kehidupan kita sekarang, kitalah yang harus mengapresiasinya, menghargainya dan menjalaninya sebaik mungkin.
Sama seperti apa yang diungkapkan Herman J. Waluyo bahwa tingkat apresiasi yang pertama adalah menggemari. Jika kita sulit untuk menerima kenyataan hidup, langkah awal yang harus kita lakukan adalah menggemarinya. Menyukai hidup kita! Kemudian barulah kita menikmatinya dan memberikan reaksi yang positif terhadap kehidupan kita. Di tingkat yang ketiga, '..mampu membaca karya sastra yang 'sulit' dengan kenikmatan', jika kita analogikan apresiasi sastra dengan apresiasi hidup, kalimat di atas kira-kira dapat berarti seperti ini, '...mampu menghadapi cobaan yang berat sekalipun dengan kenikmatan (rasa syukur dan keikhlasan).
Tahap selanjutnya yaitu mampu membandingkan, mana yang baik dan mana yang buruk. Mana perbuatan yang seharusnya dilakukan dan mana yang seharusnya tidak dilakukan.
Hiduplah dengan sebaik-baiknya. Apresiasilah hidup kita! Berjuanglah! Jangan menyerah! Ganbatteeeee~!!! XDD
No comments:
Post a Comment