Tuesday, 22 November 2011

SASTRA

Dr. Abdullah Dahana Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berkesimpulan bahwa istilah Sastra telah mengalami penyempitan arti, “Kebanyakan kaum awam menganggap sastra hanyalah ilmu yang mengurusi kesusastraan saja. Padahal arti sastra sesungguhnya itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan secara luas. Itulah salah satu penyebab Fakultas Sastra berganti baju menjadi Fakultas Ilmu Budaya.”
Menurut KBBI arti sastra adalah:
(1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari);
(2) karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.

Jadi apa definisi sastra itu?
Mari kita cari! (be a winner, not a loser). Ada sebuah dialog bapak dengan anak yang saya temukan di situs penerbit Mizan tentang pengajaran dan penggambaran sastra. Sebuah artikel yang cukup menarik!
Dalam bahasa Inggris kita mengenal kata literature, diserap menjadi literatur ke dalam bahasa Indonesia. Arti literature (menurut kamus online WorldNet) adalah:
1: creative writing of recognized artistic value
2: the humanistic study of a body of literature; “he took a course in French literature”
3: published writings in a particular style on a particular subject; “the technical literature”; “one aspect of Waterloo has not yet been treated in the literature”
4: the profession or art of a writer; “her place in literature is secure”

Apakah sastra memiliki definisi yang sama dengan literature?
Jika melihat perbandingan arti dua kamus di atas terdapat perbedaan bahwa arti literatur dalam bahasa Inggris memiliki arti yang lebih lebar dibandingkan arti sastra dalam bahasa Indonesia.
Sebuah pepatah mengatakan “Bahasa menunjukkan bangsa”, pepatah ini benar sebagai eksistensi sebuah bangsa di dunia. Siapa lagi yang harus berbahasa Indonesia selain kita sendiri supaya tidak kehilangan identitas diri?
Bahasa, selain dipertahankan sebagai warisan budaya pula harus dikembangkan, salah satu yang penting adalah kosakata baru. Sebenarnya kosakata baru yang murni diciptakan oleh orang Indonesia itu ada, seperti contohnya adalah pindai (scan), tikalas (subscript), tikatas (superscript). Tapi siapa yang menggunakan? Apakah publikasi lembaga bahasa kurang? atau justru lembaga bahasa tidak mempublikasikan apa-apa?
Selain mencari kombinasi dari 26 karakter latin sebagai kosakata baru, bahasa Indonesia memiliki metoda tersendiri untuk membentuk inovasi kosakata yaitu dengan sisipan ataupun imbuhan. Contoh yang paling umum adalah kinerja (performance) yang berasal dari kerja atau sinambung (continuous) dari kata sambung. Mengapa tidak kita ciptakan misalnya tinembak, pinanjang, pinendek, sinempit atau linuas?
SOURCE

No comments:

Post a Comment